Neo-MABIMS 3°–6,4°: Apakah Dua Angka Sudah Cukup untuk Mewakili Keterlihatan Hilal?

Sebuah refleksi atas perkembangan ilmu visibilitas hilal

Pernahkah Anda Mencari Lampu di Kejauhan?

Bayangkan suatu sore Anda sedang berdiri di sebuah bukit.

Di kejauhan terdapat sebuah rumah dengan lampu teras yang menyala.

Lalu seseorang bertanya,

“Apakah lampu itu bisa terlihat dari sini?”

Apakah cukup mengetahui bahwa lampu tersebut berada 10 meter di atas tanah?

Tentu tidak.

Kita juga perlu mengetahui banyak hal, misalnya:

  • seberapa terang lampunya,
  • apakah ada kabut,
  • apakah ada pepohonan yang menghalangi,
  • apakah langit masih terang,
  • dan seberapa jauh jaraknya.

Dengan kata lain, kemampuan melihat sebuah objek tidak pernah ditentukan hanya oleh satu parameter.

Hal yang sama juga berlaku ketika kita mencoba melihat hilal.

Mengapa Hilal Sulit Dilihat?

Berbeda dengan bulan purnama yang terang benderang, hilal awal bulan hanyalah sepotong cahaya yang sangat tipis. Kesulitannya bukan karena Bulan terlalu kecil. Kesulitannya adalah karena hilal muncul ketika langit barat masih dipenuhi cahaya Matahari yang baru saja terbenam.

Akibatnya terjadi “pertarungan” antara dua cahaya.

  • Cahaya hilal yang sangat redup.
  • Cahaya langit senja yang masih sangat terang.

Semakin tipis hilalnya, semakin sulit pula mata manusia membedakannya dari cahaya langit.

Mengapa Astronom Tidak Hanya Mengukur Tinggi Hilal?

Di sinilah ilmu astronomi berkembang. Jika tujuan kita adalah memprediksi apakah hilal dapat terlihat, ternyata mengetahui tinggi Bulan saja tidak cukup. Misalkan terdapat dua lokasi.

Lokasi pertama:

  • tinggi hilal 5°
  • elongasi 7°

Lokasi kedua:

  • tinggi hilal juga 5°
  • elongasi 10°

Apakah peluang terlihatnya sama? Belum tentu. Walaupun sama-sama berada pada ketinggian 5°, hilal pada lokasi kedua biasanya memiliki sabit yang lebih tebal sehingga lebih mudah terlihat.

Apa yang Dimaksud “Lebar Sabit”?

Banyak orang mengira lebar sabit adalah panjang bulan sabit seperti huruf “C”. Sebenarnya bukan. Yang dimaksud para astronom adalah ketebalan sabit (Width of Crescent atau W). Bayangkan dua gambar berikut :

Keduanya sama-sama berbentuk sabit. Namun sabit kedua memantulkan cahaya Matahari lebih banyak sehingga jauh lebih mudah terlihat. Karena itulah Bernard Yallop (1997) maupun Mohammad Odeh (2004) menggunakan Width of Crescent (W) sebagai salah satu parameter utama dalam model visibilitas hilal. Artinya, mereka tidak hanya ingin mengetahui di mana posisi Bulan, tetapi juga seberapa terang sabit Bulan tersebut.

Analogi Lampu Mobil di Senja Hari

Bayangkan dua mobil berada pada jarak yang sama. Mobil pertama menggunakan lampu redup. Mobil kedua menggunakan lampu LED yang sangat terang. Walaupun posisi kedua mobil sama persis, tentu mobil kedua akan lebih mudah terlihat. Demikian pula hilal. Dua hilal bisa memiliki posisi hampir sama, tetapi jika salah satunya mempunyai sabit yang lebih tebal, maka hilal tersebut akan lebih mudah diamati.


Dari Mana Datangnya Kriteria Visibilitas Hilal?

Perkembangan ilmu visibilitas hilal tidak terjadi dalam semalam. Selama puluhan tahun para astronom mengumpulkan ribuan laporan rukyat dari berbagai negara. Data tersebut kemudian digunakan untuk membangun model prediksi visibilitas. Berikut beberapa model yang paling berpengaruh :

Lalu Mengapa Neo-MABIMS Hanya Menggunakan Dua Parameter?

Pertanyaan ini sering disalahpahami. Neo-MABIMS tidak disusun untuk menggantikan seluruh model visibilitas astronomi. Tujuan utamanya adalah menyediakan kriteria operasional yang:

  • sederhana,
  • mudah dihitung,
  • dapat diterapkan secara seragam oleh negara anggota MABIMS,
  • dan mendukung penyatuan kalender Hijriah.

Karena itu dipilih dua parameter yang paling mudah dihitung:

  • tinggi hilal,
  • elongasi.

Keputusan tersebut merupakan hasil kajian MABIMS berdasarkan data observasi yang tersedia saat itu dan disepakati sebagai dasar operasional regional. Dengan demikian, Neo-MABIMS dan model seperti Yallop atau Odeh sebenarnya memiliki tujuan yang berbeda.

Namun, Sebuah Pertanyaan Ilmiah Tetap Menarik Diajukan

Walaupun Neo-MABIMS merupakan kemajuan dibanding kriteria lama 2°–3°–8 jam, perkembangan ilmu visibilitas hilal mengundang satu pertanyaan.

Mengapa hampir seluruh model visibilitas modern menggunakan tiga hingga empat parameter, sedangkan Neo-MABIMS disederhanakan menjadi dua parameter?

Pertanyaan ini lahir dari sejarah MABIMS sendiri. Kriteria 2°–3°–8 jam pernah dianggap memadai. Namun setelah data observasi bertambah dan penelitian berkembang, kriteria tersebut direvisi menjadi 3°–6,4°. Artinya, revisi adalah bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan. tapi perkembangan nya mengapa sangat lambat? sedangkan data observasi 2°–3°–8 jam selalu tertolak di dunia internasional (lihat situs ICOP)

Apa Kata Penelitian Terbaru?

Menariknya, penelitian Analysis Tool for Lunar Crescent Visibility Criterion Based on Integrated Lunar Crescent Database (2023) membandingkan beberapa kriteria visibilitas menggunakan basis data observasi terpadu (Integrated Lunar Crescent Database).

Dalam penelitian tersebut dibandingkan antara lain:

  • Yallop,
  • Odeh,
  • Caldwell,
  • Alrefay,
  • Istanbul,
  • MABIMS 1995,
  • dan Neo-MABIMS 2021.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kriteria memiliki tingkat kesesuaian dan tingkat kontradiksi yang berbeda terhadap data observasi. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu model pun yang sepenuhnya bebas dari evaluasi ilmiah, dan setiap model tetap dapat diuji ketika basis data observasi semakin bertambah.

Kajian lain mengenai dinamika Neo-MABIMS juga menunjukkan masih adanya persoalan metodologis, seperti penggunaan elongasi geosentrik atau toposentrik serta perbedaan implementasi antar lembaga. Para penulisnya mendorong agar aspek-aspek tersebut terus dievaluasi sebagai bagian dari penyempurnaan kriteria.

Penutup

Neo-MABIMS 3°–6,4° merupakan salah satu tonggak penting dalam upaya penyatuan kalender Hijriah di Asia Tenggara. Kriteria ini lahir dari semangat memperbaiki kelemahan kriteria sebelumnya melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan hasil observasi modern.

Namun sejarah yang sama juga mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti. Sebagaimana MABIMS pernah berkembang dari kriteria 2°–3°–8 jam menjadi 3°–6,4°, maka terbuka kemungkinan bahwa di masa mendatang, dengan bertambahnya data observasi dan berkembangnya model visibilitas, akan lahir penyempurnaan berikutnya.

Sikap seperti inilah yang menjadi ruh sains: bukan mempertahankan suatu model sebagai yang paling benar untuk selamanya, melainkan terus mengujinya terhadap bukti-bukti baru.


Referensi

  1. Bernard D. Yallop. A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon. HM Nautical Almanac Office, Technical Note No. 69 (1997).
  2. J.A.R. Caldwell & C.D. Laney. First Visibility of the Lunar Crescent. African Skies, No. 5 (2001).
  3. Mohammad Sh. Odeh. New Criterion for Lunar Crescent Visibility. Experimental Astronomy, Vol. 18 (2004).
  4. MABIMS. Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS (Neo-MABIMS), disepakati tahun 2021 dan diimplementasikan oleh negara anggota mulai 2022.
  5. Kementerian Agama Republik Indonesia. Penjelasan implementasi kriteria Neo-MABIMS pada Sidang Isbat Ramadan 1443 H.
  6. Analysis Tool for Lunar Crescent Visibility Criterion Based on Integrated Lunar Crescent Database (2023).
  7. Dynamics of the Neo-MABIMS Criteria in Determining the Beginning of the Hijri Month in Indonesia 1443–1446 H (2025).
  8. Dokumen Studi Kasus Awal Zulhijah 1447 : Yallop · Odeh · SAAO · Shaukat“. Falak ABI
Posted in: Prediksi

Related Posts

Neo-MABIMS 3°–6,4°: Apakah Dua Angka Sudah Cukup untuk Mewakili Keterlihatan Hilal?
27/07/2026 0

Sebuah refleksi atas perkembangan ilmu visibilitas hilal Pernahkah Anda Mencari Lampu di ...

Kalibrasi Arah Kiblat: Momen Matahari di Atas Ka’bah dan Cara Memanfaatkan Kompas HP
15/07/2026 0

Menentukan arah kiblat yang tepat adalah kebutuhan penting bagi setiap muslim, baik untuk ...

Kondisi Hilal Zulhijah 1447
17/05/2026 0

Kondisi Hilal Zulqaidah 1447 H (bulan sebelum nya) Ijtimak awal Zulqaidah 1447 terjadi pada ...

Kondisi Hilal Zulqaidah 1447
18/04/2026 0

Kondisi Hilal Syawal 1447 H (bulan sebelum nya) Ijtimak awal Syawal 1447 terjadi pada pukul ...