Prediksi Awal Syawal 1447
Kondisi Hilal Ramadan 1447 H (bulan sebelum nya)
Ijtimak awal Ramadan 1447 terjadi pada pukul 19:01:25 WIB di tanggal 17 Februari 2026. Karena ijtimak terjadi setelah matahari terbenam di wilayah Indonesia, maka pengamatan hilal awal Ramadan 1447 H dilakukan pada 18 Februari 2026 dan sebagaimana telah diumumkan Dewan Syura Ahlulbait Indonesia, awal Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026
Kondisi Hilal Saat Rukyat Awal Syawal 1447 H
Berdasarkan awal Ramadan yang jatuh pada tanggal 19 Februari 2026, maka rukyat awal Syawal 1447 dilakukan pada Kamis, 19 Maret 2026 (29 hari setelah 19 Februari 2026). Ijtimak terjadi pada pukul 08:23:51 WIB di tanggal 19 Maret 2026, dan saat matahari terbenam di hari itu (19 Maret 2026), ijtimak telah terjadi untuk seluruh wilayah Indonesia. Dengan kata lain pada tanggal 19 Maret 2026 Ijtimak terjadi sebelum sunset untuk seluruh kawasan Indonesia, sehingga rukyat dilakukan saat matahari terbenam di tanggal itu.
Data Hisab Awal Syawal 1447 H Untuk Kawasan Indonesia
1. Untuk penentuan awal bulan Syawal 1447 H, ijtimak/ konjungsi ini akan kembali terjadi pada hari Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 08.23.51 WIB atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 09.23.51 WITA atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 10.23.51 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 358,45⁰. Di wilayah Indonesia pada tanggal 19 Maret 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh. Dengan memperhatikan waktu ijtimak/ konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan ijtimak / konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
2. Secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Syawal 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026.
3. Ketinggian Hilal (haqiqi) di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 0.4⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 2.9⁰ di Sabang, Aceh.
4. Elongasi toposentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 4.0⁰
di Waris, Papua sampai dengan 5.4⁰ di Banda Aceh, Aceh.
5. Umur Bulan (usia hilal) di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 7 jam 24 menit di Waris, Papua sampai dengan 10 jam 24 menit di Banda Aceh, Aceh.
6. Lag time di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 5.6 menit di Merauke, Papua sampai dengan 15.66 menit di Sabang, Aceh.
7. Fraksi Illuminasi Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 0.13% di Jayapura, Papua sampai dengan 0.26% di Sinabang, Aceh.
8. Altitude dan elongasi tertinggi di wilayah Indonesia terletak di Aceh (visibilitas terbaik)
9. Pada tanggal 19 Maret 2026, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam terdapat Saturnus yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan.
Visibilitas Hilal Syawal 1447

SAAO 19Mar26 (Syawal1447)

Shaukat 19Mar26 (Syawal1447)

Odeh 19Mar26 (Syawal1447)

Yallop 19Mar26 (Syawal1447)
Dari peta diatas dapat disimpulkan:
– kriteria Odeh (limit danjon < 7⁰) : tidak terlihat
– kriteria Shaukat (limit danjon < 7⁰) : tidak terlihat
– kriteria Yallop (limit danjon = 7⁰) : tidak terlihat
– kriteria SAAO (limit danjon = 7⁰) : tidak terlihat
– altitude & elongasi tinggi berada di lokasi Aceh.
– Kemungkinan besar rukyat tidak berhasil untuk seluruh wilayah Indonesia.
Secara hisab global, ini adalah kondisi hilal tidak cukup untuk Indonesia. Maka awal Syawal 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Adapun ketetapan pastinya adalah menunggu hasil sidang dewan itsbat Dewan Syura Ahlulbait Indonesia.
Prediksi ini disusun sebagai informasi ilmiah dan bukan konklusi syar’i. Setiap individu bertanggung jawab atas keputusan ibadahnya berdasarkan otoritas agama yang diikuti.
Pemerintah Indonesia Berdasarkan Kriteria MABIMS
MABIMS merupakan singkatan dari Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Berdasarkan analisis data efemeris pada tanggal 19 Maret 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara diprediksi belum memenuhi ambang batas fisis untuk dapat teramati secara alat optik apalagi mata telanjang
Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan bahwa pada waktu matahari terbenam (Maghrib) tanggal 19 Maret 2026, parameter posisi bulan berada di bawah kriteria baru MABIMS. Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Data astronomis menunjukkan bahwa posisi hilal belum memenuhi syarat visibilitas MABIMS pada 19 Maret 2026. Oleh karena itu, jika pemerintah Indonesia konsisten dengan MABIMS, maka awal Syawal 1447 H diproyeksikan jatuh pada tanggal 21 Maret 2026.
(Falak ABI)