Kriteria Visibilitas Hilal: Yallop · Odeh · SAAO · Shaukat · 17 Mei 2026 · Falak ABI

Kriteria Visibilitas Hilal

Yallop · Odeh · SAAO · Shaukat

Panduan Ilmiah Komprehensif beserta Contoh Perhitungan · Studi Kasus: Awal Zulhijah 1447 H — 17 Mei 2026 · DKI Jakarta (6,104°S, 106,775°E) & Banda Aceh (5,467°N, 95,242°E)

Kata Pengantar

Menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah selalu bertumpu pada satu momen singkat: beberapa menit setelah matahari terbenam, ketika hilal — bulan sabit termuda — mungkin, atau mungkin tidak, cukup terang untuk dilihat. Untuk membantu memperkirakan kemungkinan itu sebelum rukyat (pengamatan langsung) dilakukan, para astronom telah mengembangkan berbagai kriteria visibilitas hilal berdasarkan data observasi selama puluhan tahun.

Artikel ini memuat kajian lengkap terhadap empat kriteria yang paling banyak dirujuk secara internasional: Yallop (1997), Odeh (2004), SAAO — Caldwell & Laney (2001), dan Shaukat (moonsighting.com). Setiap kriteria dijelaskan mulai dari parameter astronomi dasarnya, rumus perhitungan, hingga pembagian zona visibilitasnya masing-masing.

Sebagai studi kasus, artikel ini menyajikan perhitungan nyata untuk awal Zulhijah 1447 H (17 Mei 2026) di dua lokasi: DKI Jakarta dan Banda Aceh — lengkap dengan data astronomi terverifikasi dan langkah perhitungan langkah demi langkah. Seluruh data dan konstanta pada artikel ini telah diverifikasi silang dari sumber-sumber primer masing-masing kriteria.


1. Parameter Astronomi Dasar

Sebelum membahas masing-masing kriteria, berikut parameter-parameter astronomi yang menjadi fondasi seluruh metode prediksi visibilitas hilal.

ParameterDefinisiRelevansi & Catatan
ARCL (Elongasi)Sudut pisah toposentris bulan–matahariBatas Danjon: 6,4° (Odeh) atau 7° (Danjon asli). Di bawah ini hilal tidak bisa terbentuk secara fisika.
ARCVBeda ketinggian toposentris bulan–matahari pada Best TimeARCV = alt bulan − alt matahari. Saat Best Time, alt matahari negatif, sehingga ARCV > DALT.
DALTKetinggian bulan haqiqi (toposentris) tepat saat sunsetDigunakan SAAO. DALT = alt bulan saat alt matahari = 0°. Berbeda dari ARCV.
DAZBeda azimuth bulan–matahari saat sunsetDigunakan SAAO: DAZ = │Az bulan − Az matahari│. Semakin besar DAZ, batas visibilitas semakin rendah.
W (Lebar Sabit)W = SD × (1 − cos ARCL) [arcmenit]Mengukur kecerlangan intrinsik hilal. Digunakan Yallop, Odeh, dan Shaukat.
SD (Semidiameter)Jari-jari sudut bulan = (diameter sudut / 2) × 60 [arcmenit]17 Mei 2026: bulan di perigee → SD ≈ 16,68 arcmenit (lebih besar dari rata-rata).
Best TimeSunset + (4/9) × Lag TimeWaktu optimal kontras hilal–langit. Digunakan Yallop, Odeh, Shaukat.
Lag TimeMoonset − Sunset [menit]Makin panjang lag → Best Time lebih jauh → matahari lebih dalam di bawah → ARCV lebih besar.
Alt Haqiqi vs Mar'iHaqiqi = toposentris, tanpa refraksi. Mar'i = dengan refraksi (~+0,5°)Semua formula menggunakan alt haqiqi (toposentris). Mar'i tidak dimasukkan ke formula.
← geser untuk lihat lebih →

2. Empat Kriteria Visibilitas Hilal

2.1 Kriteria Yallop (1997)

Dr. Bernard D. Yallop, Superintendent of HM Nautical Almanac Office (HMNAO), Royal Greenwich Observatory, menerbitkan HMNAO Technical Note No. 69 pada 1997. Dibangun dari 295 rekaman observasi (1859–1996). Parameter dievaluasi pada Best Time.

W = SD × (1 − cos ARCL) [arcmenit] f(W) = 11,8371 − 6,3226·W + 0,7319·W² − 0,1018·W³ [derajat] q = (ARCV − f(W)) / 10
ZonaRentang qKeteranganWarna PetaN
Aq > +0,216Mudah terlihat dengan mata telanjangHijau Tua166
B+0,216 ≥ q > −0,014Terlihat dalam kondisi atmosfer sempurnaHijau Muda68
C−0,014 ≥ q > −0,160Terlihat MT setelah ditemukan dengan alat optikHijau Pucat26
D−0,160 ≥ q > −0,232Hanya terlihat dengan binokuler/teleskopKuning14
E−0,232 ≥ q > −0,293Tidak terlihat dengan teleskop konvensionalOranye4
Fq ≤ −0,293Di bawah Limit Danjon — tidak mungkin secara fisikaPutih/Kosong17

N = jumlah rekaman observasi di zona tersebut dalam database Yallop (1997).

2.2 Kriteria Odeh (2004)

Mohammad Sh. Odeh (ICOP/AUASS, Yordania), Experimental Astronomy Vol. 18:39–64 (2004). 737 rekaman observasi dari jaringan global. Formula dan waktu evaluasi (Best Time) sama dengan Yallop, namun f(W) berbeda dan zona lebih operasional.

W = SD × (1 − cos ARCL) [arcmenit] f(W) = −0,1018·W³ + 0,7319·W² − 6,3226·W + 7,1651 [derajat] V = ARCV − f(W)
ZonaBatas VKeteranganWarna PetaN
AV ≥ 5,65Easily visible — mudah terlihat mata telanjangHijau306
B5,65 > V ≥ 2,00Visible — terlihat dalam kondisi atmosfer baikMagenta267
C2,00 > V ≥ −0,96Visible only with optical aid — hanya dengan alat optikBiru118
DV < −0,96Not visible — tidak terlihat meski dengan alat optikPutih46

Konstanta 7,1651 pada f(W)_odeh terverifikasi langsung dari PDF paper asli Odeh (2004). Batas V (5,65 / 2,00 / −0,96) juga terverifikasi dari sumber yang sama.

2.3 Kriteria SAAO — Caldwell & Laney (2001)

J.A.R. Caldwell dan C.D. Laney (SAAO, Afrika Selatan), African Skies No. 5 (2001). Menggunakan dua parameter saat SUNSET: DALT (ketinggian bulan haqiqi) dan DAZ (beda azimuth). Berbeda dari Yallop/Odeh: tidak ada Best Time, langsung dievaluasi saat matahari terbenam.

Tabel Batas SAAO (dikutip verbatim dalam Odeh 2004 Table IV):

BatasDAZ=0°DAZ=5°DAZ=10°DAZ=15°DAZ=20°
DALT1 — batas Impossible6,3°5,9°4,9°3,8°2,6°
DALT2 — batas Possible8,2°7,8°6,8°5,7°4,5°
ZonaKondisiKeterangan
MerahMoonset ≤ Sunset atau konjungsi setelah SunsetImpossible — secara geometri bulan tidak bisa terlihat
Tidak BerwarnaMoonset > Sunset, konj. sebelum Sunset, DALT < DALT1Not Possible — bulan di atas cakrawala tapi sabit terlalu redup
BiruMoonset > Sunset, DALT1 ≤ DALT < DALT2Improbable — visibilitas sangat tidak mungkin
HijauMoonset > Sunset, DALT ≥ DALT2Possible — visibilitas mungkin terjadi

2.4 Kriteria Khalid Shaukat (moonsighting.com)

Khalid Shaukat mengembangkan kriteria yang menggunakan formula identik dengan Yallop untuk menghitung nilai Q pada Best Time, namun dengan batas zona yang berbeda. Sumber resmi: moonsighting.com/1439jmt.html, dikutip dalam "Treatise on Imkān al-Ru'ya" (Mufti Amjad Muhammad, Wifaqululama 2018, hal. 3).

W = SD × (1 − cos ARCL) [arcmenit] f(W) = 11,8371 − 6,3226·W + 0,7319·W² − 0,1018·W³ [derajat] Q = (ARCV − f(W)) / 10 (sama dengan q Yallop)
ZonaRentang QKeterangan
AQ > +0,270Easily visible with naked eye
B+0,270 ≥ Q > −0,024Visible if perfect conditions
C−0,024 ≥ Q > −0,212Optical aid to find moon
D−0,212 ≥ Q > −0,480Visible with optical aid only
EQ ≤ −0,480Not visible

Perbedaan Zona Yallop vs Shaukat: Formula Q/q identik, namun batas zona berbeda. Shaukat menggunakan 5 zona (A–E) dengan batas +0,270 / −0,024 / −0,212 / −0,480, sedangkan Yallop menggunakan 6 zona (A–F) dengan batas +0,216 / −0,014 / −0,160 / −0,232 / −0,293.


3. Perbedaan Mendasar Keempat Kriteria

AspekYallopOdehSAAOShaukat
Tahun199720042001~1993
Database295 rekaman737 rekamanData SAAO regionalTidak dipublikasikan
Waktu evaluasiBest TimeBest TimeTepat SunsetBest Time
Parameter utamaARCV, WARCV, WDALT, DAZARCV, W (same Q)
Jumlah zona6 (A–F)4 (A–D)3 warna5 (A–E)
Publikasi formalYaYaYaTidak (situs web)

3.1 Waktu Evaluasi: Best Time vs Sunset

Yallop, Odeh, Shaukat mengevaluasi pada Best Time, ketika matahari sudah di bawah cakrawala (ketinggian negatif), sehingga ARCV = altMoon − altSun menghasilkan nilai yang lebih besar dari DALT. SAAO mengevaluasi tepat saat matahari terbenam (alt = 0°) — lebih operasional, mencerminkan momen pengamat mulai mencari hilal.

Akibatnya nilai ARCV di Best Time selalu lebih besar dari DALT saat sunset, sehingga Yallop/Odeh/Shaukat lebih sensitif terhadap geometri langit, sementara SAAO lebih konservatif.

3.2 Yallop vs Shaukat: Formula Sama, Zona Berbeda

ZonaBatas Yallop (q)Batas Shaukat (Q)Perbedaan
Aq > +0,216Q > +0,270Shaukat lebih ketat (+0,054)
B−0,014 > q−0,024 > QShaukat sedikit lebih ketat
C−0,160 > q−0,212 > QShaukat lebih lebar (+0,052)
D−0,232 > q−0,480 > QShaukat jauh lebih lebar (+0,248)
E/Fq ≤ −0,293Q ≤ −0,480Shaukat: satu zona; Yallop: dua zona

3.3 Alt Haqiqi vs Alt Mar'i

Data Banda Aceh tersedia dalam dua versi: alt haqiqi (toposentris) = 6,80° dan alt mar'i (dengan refraksi atmosfer) = 7,30°. Perbedaan ~0,5° ini akibat pembiasan atmosfer. Semua formula dalam keempat kriteria menggunakan alt haqiqi.


4. Data dan Perhitungan — 17 Mei 2026

Ijtimak: Sabtu 16 Mei 2026 pukul 20:00:56 UTC = Ahad 17 Mei 2026 pukul 03:00:56 WIB
Kondisi: Bulan di PERIGEE — diameter sudut lebih besar dari rata-rata → W lebih besar
Sumber data posisi: Aplikasi komputer Starry Night Enterprise

4.1 Tabel A — Data Saat Sunset (SAAO)

ParameterDKI JakartaBanda Aceh
Koordinat6,104°S / 106,775°E5,467°N / 95,242°E
Waktu Sunset (WIB)17:44:1318:46:42
Azimuth Matahari289,4°289,6°
Altitude Matahari saat Sunset−0,83°−0,83°
Azimuth Bulan saat Sunset297,1°295,8°
DAZ7,7°6,2°
Alt Bulan Haqiqi (= DALT)4,70°6,80°
Alt Bulan Mar'i5,20°7,30°
Elongasi Toposentris saat Sunset9,40°9,80°
Waktu Moonset (WIB)18:10:1219:22:21
Lag Time25,98 menit35,65 menit
Umur Bulan saat Sunset±14 j 43 m±15 j 46 m

4.2 Tabel B — Data Saat Best Time (Yallop, Odeh, Shaukat)

ParameterDKI JakartaBanda Aceh
Best Time (WIB)17:55:2719:02:35
Alt Bulan di Best Time3,205°4,367°
Alt Matahari di Best Time−3,542°−4,551°
ARCV6,747°8,918°
Elongasi Toposentris di Best Time10,153°10,737°
Semidiameter (SD)16,676 arcmenit16,676 arcmenit
Iluminasi0,607%0,700%

4.3 Perhitungan Yallop, Odeh, Shaukat (Best Time)

Langkah 1 — W: Jakarta: SD=16,6761' → W = 0,2611'. Banda Aceh: SD=16,6764' → W = 0,2920'.

Langkah 2 — f(W) Yallop/Shaukat: Jakarta = 10,2341°. Banda Aceh = 10,0510°.

Langkah 3 — q/Q: Jakarta = (6,747−10,2341)/10 = −0,3487. Banda Aceh = (8,918−10,0510)/10 = −0,1133.

Langkah 4 — f(W) Odeh: Jakarta = 5,5621° → V = 1,1849. Banda Aceh = 5,3790° → V = 3,5390.

Kotaq/QZona YallopVZona OdehZona Shaukat
DKI Jakarta−0.3487F1.1849CD — Visible with optical aid only
Banda Aceh−0.1133C3.5390BC — Optical aid to find moon

4.4 Perhitungan SAAO (Data Sunset)

DKI Jakarta — DAZ 7,7°, DALT 4,7°: DALT1 = 5,36°, DALT2 = 7,26°. DALT 4,7° < DALT1 → Tidak Berwarna (Not Possible).

Banda Aceh — DAZ 6,2°, DALT 6,8°: DALT1 = 5,66°, DALT2 = 7,56°. DALT1 ≤ DALT 6,8° < DALT2 → Biru (Improbable).

KotaDAZDALTDALT1DALT2Zona SAAO
DKI Jakarta7.7°4.7°5.36°7.26°Tidak Berwarna — Not Possible
Banda Aceh6.2°6.8°5.66°7.56°Biru — Improbable

5. Rekapitulasi, Peta Visibilitas, dan Analisis

5.1 Ringkasan Hasil Keempat Kriteria

KriteriaJakartaZonaBanda AcehZonaParameter Kunci
Yallopq=-0.349Fq=-0.113CARCV & W di Best Time
OdehV=1.1849CV=3.5390BARCV & W di Best Time
SAAODALT=4.7°Tidak BerwarnaDALT=6.8°BiruDALT & DAZ saat Sunset
ShaukatQ=-0.349DQ=-0.113CQ (=q) di Best Time

5.2 Peta Visibilitas Resmi — 17 Mei 2026

Berikut empat peta visibilitas resmi untuk Zulhijah 1447 H yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga astronomi menggunakan kriteria masing-masing. Perhatikan posisi Indonesia pada setiap peta.

Peta 1: Kriteria Yallop — R.H. van Gent, Utrecht University

Peta visibilitas hilal Yallop Zulhijah 1447 AH

Gambar 1. Peta visibilitas hilal Yallop untuk Zulhijah 1447 AH (17 Mei 2026). Sumber: R.H. van Gent, Utrecht University (webspace.science.uu.nl/~gent0113). Berdasarkan Yallop 1997.

Peta 2: Kriteria Odeh — HilalMap (al-habib.info)

Peta visibilitas hilal Odeh Zulhijah 1447 AH

Gambar 2. Peta visibilitas hilal Odeh (2006) untuk Zulhijah 1447 AH (17 Mei 2026). Sumber: HilalMap, al-habib.info / www.icoproject.org. Kriteria: Odeh 2006.

Peta 3: Kriteria SAAO — Accurate Times (ICOP, Mohammad Odeh)

Peta visibilitas hilal SAAO Zulhijah 1447 AH

Gambar 3. Peta visibilitas hilal SAAO (Caldwell & Laney 2001) untuk Zulhijah 1447 AH (17 Mei 2026). Sumber: Accurate Times, ICOP (www.icoproject.org/accut.html).

Peta 4: Kriteria Shaukat — OmegaHilalSighting (Fawzi Kayali)

Peta visibilitas hilal Shaukat Zulhijah 1447 AH

Gambar 4. Peta visibilitas hilal Shaukat untuk Zulhijah 1447 AH (17 Mei 2026). Sumber: OmegaHilalSighting, dikembangkan oleh Fawzi Kayali (icoproject.org). Kriteria: Khalid Shaukat.

5.3 Kesesuaian Hasil Perhitungan dengan Peta

KriteriaPeta menunjukkan IndonesiaHasil JakartaHasil Banda Aceh
YallopZona C–F di Indonesia timur–baratZona FZona C
OdehKuning–Biru (C) di IndonesiaZona CZona B
SAAOTidak Berwarna & BiruTidak BerwarnaBiru
ShaukatD dan C di IndonesiaZona DZona C

5.4 Analisis: Mengapa Banda Aceh Lebih Baik dari Jakarta?


6. Referensi

1. Yallop, B.D. (1997). A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon. HMNAO Technical Note No. 69. Royal Greenwich Observatory, Cambridge, UK.

2. Odeh, M.Sh. (2004). New Criterion for Lunar Crescent Visibility. Experimental Astronomy, 18, 39–64. Springer. DOI: 10.1007/s10686-005-9002-5.

3. Caldwell, J.A.R. & Laney, C.D. (2001). First Visibility of the Lunar Crescent. African Skies / Hemelnavorsing, No. 5. SAAO, Cape Town.

4. Shaukat, K. (ongoing). moonsighting.com/1439jmt.html. Dikutip dalam: Mohammed, Amjad (2018). Treatise on Imkān al-Ru'ya and Astronomical Data. Wifaqululama, hal. 3.

5. van Gent, R.H. (2024). Global Crescent Visibility Maps. Utrecht University. webspace.science.uu.nl/~gent0113/islam/islam_lunvis.html

6. Odeh, M.Sh. Accurate Times v5.x. ICOP. icoproject.org/accut.html

7. Kayali, F. OmegaHilalSighting. icoproject.org

✅ Terverifikasi dari sumber primer: Formula Yallop (q, f(W), zona A–F), Formula Odeh (V, f(W)_odeh, batas zona), Tabel SAAO asli (DALT1/DALT2 × DAZ), Formula dan zona Shaukat.

Formula Gm/12,7 + W/1,2 yang diklaim sebagai formula Shaukat: tidak dapat diverifikasi dari sumber manapun dan tidak digunakan dalam artikel ini.


Kata Penutup dan Kesimpulan

Dari studi kasus 17 Mei 2026 di atas, ada satu pelajaran penting yang perlu digarisbawahi: keempat kriteria ini tidak selalu sepakat satu sama lain, walaupun berangkat dari data astronomi yang identik. Untuk Jakarta, misalnya, kriteria Odeh dan Shaukat menyimpulkan hilal masih mungkin terlihat dengan bantuan alat optik, sementara Yallop dan SAAO menyatakan hal itu mustahil secara fisik. Perbedaan ini bukan kesalahan hitung, melainkan cerminan dari perbedaan filosofi dan database observasi yang membangun masing-masing kriteria.

Perbedaan ini juga menjelaskan mengapa Banda Aceh, dengan lag time dan elongasi yang sedikit lebih besar dibanding Jakarta, secara konsisten menunjukkan hasil yang lebih baik di keempat kriteria — sebuah pengingat bahwa visibilitas hilal sangat sensitif terhadap posisi geografis, bahkan untuk selisih lintang dan bujur yang relatif kecil.

Perlu ditegaskan juga: meski elongasi, altitude hilal, dan lag time sering dipakai sebagai penyaring cepat (mirip logika kriteria MABIMS), ketiga parameter ini secara matematis tidak cukup untuk merepresentasikan ambang batas visibilitas hilal secara akurat. Yallop, Odeh, dan Shaukat sebenarnya membutuhkan W (lebar sabit), yang bergantung pada semidiameter bulan (SD) — nilai yang berubah tergantung jarak Bumi–Bulan (lebih besar saat perigee, lebih kecil saat apogee). Sementara itu, SAAO sama sekali tidak bisa direduksi ke altitude saja, karena ambang batasnya (DALT1/DALT2) juga bergeser mengikuti DAZ (beda azimuth bulan–matahari) — bahkan pada altitude yang identik, tabel SAAO bisa memberi kesimpulan berbeda hanya karena DAZ berbeda. Untuk Yallop, Odeh, dan Shaukat, pengaruh SD ini lebih halus: dua kasus dengan elongasi dan ARCV yang sama pun berpotensi jatuh di zona berbeda jika posisi bulan sedang di perigee atau apogee, terutama saat nilainya kebetulan dekat garis batas zona. Dengan kata lain, elongasi–altitude–lag time hanya cukup sebagai pendekatan kasar untuk kalender jangka panjang, bukan pengganti perhitungan penuh keempat kriteria ini.

Yang terpenting untuk dipahami: hisab dengan kriteria apa pun — Yallop, Odeh, SAAO, maupun Shaukat — pada dasarnya adalah alat prediksi, bukan keputusan final. Kriteria-kriteria ini sangat berguna untuk menyusun kalender Hijriah dalam jangka panjang dan sebagai acuan ketika rukyat lapangan terhalang cuaca. Namun penetapan awal bulan yang sesungguhnya, terutama untuk hari-hari penting seperti awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, tetap idealnya dikonfirmasi melalui pengamatan hilal langsung di lapangan oleh pihak yang berwenang.

Semoga kajian ini bermanfaat sebagai bahan referensi ilmiah yang memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana sains dan syariat saling melengkapi dalam menentukan kalender Hijriah.